Koto Tangah, Komapos – Pandemi Covid-19 rupanya tidak menyurutkan semangat masyarakat Jorong Kaluang Tapi, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang untuk memaknai Hari Raya Idul Adha 1442H/2021 M.

Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, masyarakat setempat tetap menunaikan ibadah kurban sebagaimana yang diamanatkan dalan syariat agama.

Pantauan di Surau Cubadak Jorong Kaluang Tapi, tampak masyarakat bahu-membahu menyembelih 10 ekor sapi kurban. Penyelenggaraan penyembelihan berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan Covid-19.

Tokoh masyarakat setempat, H. Amiruddin Darsa Malin Mangkuto menyebut, pada Idul Adha tahun ini hewan kurban yang disembelih 10 ekor.

Jumlah tersebut menurutnya masih cukup untuk menjangkau kebutuhan daging kurban masyarakat setempat.

“Tahun ini 10 ekor sapi, sama dengan tahun sebelumnya, melihatkan kondisi ekonomi masyarakat saat pandemi ini, jumlah ini sudah banyak,” ujarnya.

Disampaikannya, tradisi menyembelih hewan kurban di Surau Cubadak sudah berlangsung sejak lama. Oleh sebab itu, meski pandemi sekalipun, masyarakat tetap berupaya menyelenggarakan ibadah untuk mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim a.s itu.

Dirinya pun merasa bersyukur dan mengapresiasi semangat masyarakat Jorong Kaluang Tapi yang tetap menyelanggarakan ibadah kurban meski dalam kondisi sulit.

“Dalam kondisi sulit, masyarakat Jorong Kaluang Tapi tetap berkurban. Ini menunjukan bahwa kesadaran sosial dan kemauan masyarakat untuk beribadah sangat tinggi,” tuturnya.

Pengurus Surau Cubadak, A. Rangkayo Batuah mengungkapkan sapi-sapi yang disembelih saat Idul Adha merupakan sapi yang diperoleh dari hasil menabung peserta kurban.

Lebih jauh disebutkan, peserta kurban di surau itu tidak membayar sekaligus biaya pembelian hewan kurban, namun peserta mencicilnya ke panitia.

“Sejak tahun 1985, masyarakat kami sudah membiasakan menabung untuk membeli hewan kurban, “pitih karoban” begitu kami menyebutnya. Sekali seminggu, biasanya tiap selasa, pengurus surau akan berkeliling mengumpulkan uang dari masyarakat. Ada yang menyetor lima puluh ribu, sepuluh ribu, bahkan lima ribu rupiah,” terangnya.

Setelah uang yang terkumpul cukup untuk membeli seekor kambing, imbuhnya, panitia kemudian mendaftarkan yang bersangkutan sebagai peserta kurban.

Konon sistem menabung Pitih Karoban ini sudah dijalankan oleh generasi penerus.

“Dulunya, saya bersama Alm Ustadz Malin Muhammad dan Alm KH Mangkuto Ameh yang mengumpulkan pitih karoban, sekarang yang muda-muda melanjutkannya,” tutup A. Rangkayo Batuah. (KP-1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here