Lubuk Basung – Selama pandemi Covid-19, Kejaksaan Negeri (Kejari) Agam telah menggelar 31 kali sidang perkara secara online. Sidang perkara terbanyak didominasi kasus narkotika.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Agam, Rya Dilla Fitri mengatakan sejak dikeluarkan peraturan dari Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi, pihaknya langsung menggelar sidang perkara secara daring alias online.

“Sejak dikeluarkan peraturan menyikapi pandemi Covid-19, kami langsung laksanakan sidang perkara secara online,” ujarnya, Kamis (16/4).

Dikatakan Rya, persidangan perkara secara online dilakukan dengan cara menghubungkan antara pengadilan negeri sebagai tempat hakim bersidang, kejaksaan sebagai jaksa penuntut umum (JPU), dan Lapas sebagai tempat terdakwa ditahan.

Dalam persidangan online, lanjut Rya, hakim dan JPU akan melakukannya dari kantor masing-masing. Sedangkan tahanan atau terdakwa akan melakukannya dari Lapas yang sudah difasilitasi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM).

Dijelaskan, dalam menggelar sidang secara online, pihaknya tetap menghadirkan para saksi. Saksi yang akan bersidang kehadirannya difasilatasi pihak kejaksaan.

“Untuk saksi tetap dihadirkan, kehadiran mereka kami fasiltasi,” imbuhnya.

Dalam satu kali sidang perkara secara online, Kejari Agam rata-rata menggelar 8 kali sidang. Sidang digelar dua kali seminggu, Selasa dan Rabu.

“Hingga saat ini kami telah melakukan sidang perkara sebanyak 31 kali, dimana perkara terbanyak didominasi kasus narkotika,” ungkap Rya.

Sementara itu, sambung Rya, yang menjadi kendala selama persidangan perkara secara online adalah soal koneksi internet. Dikatakan, tak jarang selama bersidang koneksi internet membuat komunikasi terganggu.

“Ucapan yang harusnya kita ucapkan sekali, karena internet bermasalah, kita harus mengucapkannya berkali-kali,” pungkas Rya. (KP-Pit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here