Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita Kabupaten Agam mengalami tren positif dalam 10 tahun terakhir. Sejumlah program peningkatan perekonomian masyarakat dinilai menjadi kunci kondisi tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Welfizar menuturkan, PDRB merupakan jumlah keseluruhan nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi dalam suatu wilayah.

“Atau dalam bahasa lain, PDRB merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh unit ekonomi dalam satu wilayah,” ujar Welfizar, Jumat (27/11).

Lalu apa hubungannya dengan PDRB perkapita, imbuhnya, dijelaskan lebih lanjut PDRB perkapita diperoleh dari hasil pembagian antara PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Welfizar

“Data yang tersaji dalam bentuk ini merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah atau Kabupaten,” paparnya.

Disebutkan Welfizar, untuk Kabupaten Agam rata-rata pertumbuhan PDRB perkapita sepuluh tahun terakhir adalah sebesar 8.83 persen, sedangkan dalam periode yang sama pertumbuhan penduduk adalah 0.82 persen.

“Artinya pertumbuhan ekonomi mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk,” ucapnya.

PDRB perkapita Kabupaten Agam pada 2010 tercatat di angka 19,53 persen, angka tersebut meningkat pada 2011 menjadi 21,85 persen, lalu 2012 menjadi 24,13 persen, 2013 meningkat ke 26,7 persen, 2014 menjadi 29,43 persen.

Pada 2015 PDRB Perkapita Kabupaten Agam masih menunjukan tren positif dengan angka 31,97 persen. Kemudian meningkat di 2016 menjadi 34,72 persen, lalu 37,83 persen pada 2017, 39,25 persen di 2018 dan 41,83 di 2019.

Ditinjau dari sisi pengeluaran selama satu dekade terakhir, sebagian besar PDRB perkapita penduduk Agam atau sekitar 54 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga.

“Lebih dari setengah dari PDRB digunakan untuk konsumsi pangan masyarakat, imbasnya tingkat ketergantungan pangan cukup tinggi. Hal ini menyebabkan pola perekonomian masyarakat Agam cenderung bersifat konsumtif,” kata Welfizar.

Kondisi ini, tukasnya, selayaknya dimaknai secara positif, dengan artian jika masyarakat berhenti belanja maka perekonomian berpotensi besar akan collaps.

“Namun dalam jangka panjang, kebiasaan ini secara bertahap digeser ke arah perekonomian yang didorong oleh peningkatan produksi dari masyarakat,” terangnya lagi.

Ditambahkan, di Kabupaten Agam transformasi perekonomian dijabarkan melalui gerakan Agam Menyemai dengan jargon “nan di laman untuak dimakan, nan di parak baok ka pakan”.

“Melalui gerakan ini Pemkab Agam mendorong peningkatan produktivitas masyarakat, dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan untuk ditanami komoditi pertanian atau perkebunan dan lainnya,” ulas Welfizar.(AMC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here