Lubuk Basung – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemi Covid-19 di bulan Ramadhan berpengaruh pada pada perekonomian masyarakat terutama para pedagang. Namun ada juga yang mengaku kebijakan pembatasan tersebut tidak berpengaruh pada hasil dagangannya.

Adalah Zainimar (57) salah seorang produsen dan pedagang cendol di pasar tradisional Lubuk Basung. Seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, Tek Niman “panggilan akrab Zainimar” mengaku kebijakan pembatasan yang diterapkan pemerintah daerah tidak mempengaruhi omset dagangannya.

Saat dikunjungi Komapos.com Rabu (29/4/2020) di kediamannya di kampung parit Jorong Tigo, Nagari Geragahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam terlihat tek niman sedang membungkus cendol untuk dipasarkan esok hari.

“Alhamdulillah cendol saya tetap laris dan tetap dicari pelanggan,” ujarnya mengawali perbincangan.

Dikatakan tek niman, seperti tahun sebelumnya, ia tetap membuat cendol dengan bahan dasar 10 Kg tepung. Ia membuat dan membungkus cendol dagangannya di rumah dibantu anak-anaknya.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya saya membuat cendol dengan bahan baku 10 Kg tepung, dan selalu habis di pasaran,” kata tek Niman.

Ia mengaku dalam sehari bisa meraup omset berkisar antara Rp. 500 ribu hingga Rp.1 Juta. Dalam penjualan di pasar, cendol yang dibawa dari rumah akan dibagikan ke pedagang pengecer dengan harga Rp. 2000. Pedagang pengecer akan menjual dengan harga Rp.3000 jadi pengencer mendapatkan keuntungan Rp.1000 perbungkusnya

“Sebelum wabah Covid-19 saya buat cendol 10 Kg tepung dan saya bisa hasilkan uang Rp.500 ribu hingga Rp.1 juta sekarangpun begitu juga,” katanya.

Dibantu anaknya tek Niman memproduksi cendol malam hari, didinginkan hingga subuh baru di bungkus untuk dipasarkan. selain mendapatkan keuntungan, secara tidak lansung para pedagang pengecer dapat terbantu perekonomiannya. (KP-Jen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here