Apa yang menjadi pembeda generasi masa kini dengan generasi sebelumnya atau sesudahnya? Pada pokoknya, boleh dibilang generasi saat ini adalah generasi baru yang bercita-cita atau memiliki kemauan terlibat dalam berbagai pekerjaan yang anti mainstream. Katakanlah pekerjaan yang tidak mengharuskan mereka rutin dan rigid bekerja berdasarkan jam kantor layaknya generasi sebelumnya.

Pendeknya, generasi masa kini adalah generasi yang bercita-cita masuk atau dapat berkecimpung di dunia kerja yang fleksibel, bisa dikerjakan dari mana pun, entah di rumah, kafe, atau kantor yang mobile. Hebatnya lagi, generasi masa kini sudah memiliki kencenderungan pada proses pembangunan.

Lantas apakah hal ideal tersebut bisa terjadi begitu saja (by nature) ataukah diciptakan (by desaign)? Barangkali penulis lebih memiliki kecenderungan untuk memilih jawaban yang kedua. Semua itu memerlukan proses. Penulis berkeyakinan salah satu sarana berproses itu adalah pendidikan tinggi.

Dalam tulisan singkat ini, penulis mencoba mengaitkan urgensi pendidikan tinggi dan generasi muda dalam memajukan pembangunan, baik pendidikan, budaya, ekonomian dan segala sektor yang bersinggungan.

Badan Pusat Statistik mencatat setidaknya di Kabupaten Agam per 2020 terdapat sebanyak 76.540 penduduk berusia 15-24. Artinya sebanyak angka itu pula generasi muda yang akan bersentuhan dan berproses pada lembaga pra-perguruan tinggi dan perguruan tinggi.

Lantas pertanyaan yang ingin penulis munculkan adalah apakah di Kabupaten Agam sudah memiliki lembaga perguruan tinggi yang representatif bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah?

Penulis insaf benar tulisan ini hanyalah sekumpulan pendapat yang datang dari pemikiran singkat penulis. Penulis hanya membatasi pemikiran pada pokok persoalan di atas.

Jika bicara normatif, dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan amat kepada pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang bermuara pada meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Menurut hemat penulis, pendidikan tinggi merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan serta pemberdayaan bangsa Indonesia yang dilakukan secara berkesinambungan.

Atas dalil tersebut, penulis meyakini bahwa dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi globalisasi di segala bidang, maka diperlukan suatu lembaga pendidikan tinggi yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menghasilkan intelektual yang demokratis dan berkarakter.

Penulis juga meyakini perguruan tinggi mengemban kewajiban dan tugas Tridharma Perguruan Tinggi. Tridharma adalah kewajiban Perguruan Tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang dimaksudkan untuk kepentingan masyarakat.

Lalu, benang merah perguruan tinggi dan generasi muda (mahasiswa) dalam proses pembangunan, menurut penulis amat terbuka, mulai dari perencanaan pembangunan, proses pelaksanaan pembangunan hingga evaluasi kegiatan pembangunan.

Penulis menilai, pasca reformasi tidak ada lagi pandangan yang menganggap bahwa hanya pemerintahlah yang paham kebutuhan masyarakat. Saat ini, segala tahapan pembangunan bukan lagi bermula dari pemikiran pemerintah semata. Di sanalah generasi muda bisa mengambil peran; memberikan saran dan kajian pembangunan.

Strategi pembangunan terpusat yang biasa disebut sebagai Top-down sudah tidak lagi populer di lingkup pemerintahan. Saat ini justru strategi yang paling sesuai adalah Bottom-Up. Ide dan gagasan pembangunan berawal dari inspirasi masyarakat, dijaring melalui mekanisme yang menampung secara optimal kebutuhan pembangunan berasal dari masyarakat.

Jadi, penulis berpendapat bahwa, salah satu pihak yang dapat mendorong partisipasi masyarakat adalah Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi melalui mahasiswa mampu mengambil peran dalam mendorong, membimbing dan membantu pemberdayaan masyarakat agar berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan pembangunan yang dilakukan secara partnership dengan unsur pemerintah, LSM, pihak swasta dan stakeholders lainnya melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Lantas bagaimana proses pelaksanaannya? Barangkali setiap program Perguruan Tinggi dapat dijadikan sebagai uji coba dan action research dari perencanaan pembangunan partisipatif dan berupaya untuk mengembangkan model-model pendekatan partisipatif dan partnership dalam perencanaan pembangunan wilayah di dalam kerangka otonomi daerah.

Sejauh pemahaman penulis, perencanaan pembangunan secara partisipatif dalam pemberdayaan masyarakat dan terwujudnya good governance dalam pengelolaan daerah, serta pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan telah disosialisasikan oleh Pemerintah Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Perguruan Tinggi di awal penerapan otonomi daerah. Namun, sungguh disayangkan, kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi pada tahap itu masih terbatas pada konsep dan retorika semata.

Tidak bisa dimungkiri, sebagai contoh yang sangat dekat, saat ini masyarakat baru tahu ada proyek di daerah tempat tinggal mereka ketika terdapat tumpukan pasir dan papan nama yang menginformasikan pelaksanaan proyek.

Begitu juga dalam konteks pengawasan, partisipasi masyarakat juga hampir tidak ada, karena yang berfungsi melakukan pengawasan adalah lembaga-lembaga yang dibentuk oleh pemerintah, seperti Irjen, Itwilprop dan Itwilkab.

Untuk itu, maka diperlukan suatu tindakan nyata yang tujuannya adalah untuk mempersiapkan sumber daya yang siap berpartisipasi dalam pembangunan. Salah satunya menurut penulis adalah melalui institusi pendidikan tinggi.

Pertanyaan selanjutnya, siapkah pemerintah menghadirkan lembaga pendidikan tinggi negeri yang representatif di kampung halaman yang kita cintai ini?(*)

Depitriadi, S.IP
Jurnalis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here