Tanjung Raya, Komapos.com – Tradisi “Maumpuak” menjadi bagian terpenting dan keharusan masyarakat di saat pelaksanaan Idul Adha di Ranah Minang. Kebiasaan ini diselenggarakan ketika pembagian daging kurban, usai disembelih dan pemotongan daging.

Kegiatan inilah yang baru saja terselenggara di sejumlah nagari, terutama di Kabupaten Agam. Terkhusus di Nagari Sungai Batang, terutama di Jorong Batung Panjang, Tradisi “Maumpuak” baru saja tuntas, Rabu (21/7). Sebagian nagari dan jorong lainnya, telah terselenggara pada Selasa (20/7).

Maumpuak berasal dari kata “Tumpuak” yang berarti tumpuk. Adanya awalan “Ma” sebagai kata kerja melakukan pekerjaan berupa (konteks) menumpuk sebongkah daging kurban setelah pelaksanaan penyembelihan dan pemotongan.

Jadi, Tradisi Maumpuak adalah proses membagi daging kurban secara terpisah dalam satu paket untuk satu penerima, ditimbang sama berat dan sama banyak sehingga rata pembagiannya. Satu onggokan itu diberikan untuk peserta kurban serta untuk masyarakat dengan pemberiaan sama berat dan sama banyak.

Daging yang dibagikan dimulai untuk peserta selanjutnya baru kepada masyarakat dan panitia penyelenggara.

Walijorong Batung Panjang, F. Datuk Mangkuto Nan Basa mengatakan pelaksanaan penyembelihan dan pemotongan daging kurban dimulai pukul 09.00 WIB. Dan dibagikan sekitar pukul 17.30 WIB, berlangsung hingga pukul 18.00 WIB.

Jumlah hewan kurban sebanyak 13 ekor yakni 12 ekor sapi dan satu ekor kambing. Satu ekor sapi melibatkan tujuh orang/KK peserta kurban dengan jumlah total peserta sebanyak 85 orang/KK. Sementara masyarakat penerima daging kurban 243 orang/KK ditambah peserta 84 orang/KK dan 8 orang alim ulama. Untuk kupon yang telah disediakan dan dibagikan untuk masyarakat sebanyak 327 kupon.

“Tahun ini hewan kurban kita meningkat satu ekor sapi dan satu ekor kambing. Tahun 2020 lalu hanya 11 ekor sapi saja. Sebenarnya masih ada tiga orang peserta yang mau bergabung, hanya sudah teelambat. Karena sudah sulit mencari tambahan peserta lainnya, belum lagi mencari tambahan hewan kurbannya,” ungkap F. Datuk Mangkuto Nan Basa kepada Prokabar.com.

Seperti pepatah, “Saketek bagi bacacah, banyak bagi baumpuak” artinya, sedikit dibagi sama sedikit, satu tumpuk dibagi setumpuk. Sebagai bentuk transparan masyarakat dalam bersikap adil dan berkeadilan membagikan daging hewan kurban.

Nilai tertinggi lainnya dalam tatanan masyarakat ini sebagai bentuk semangat gotong royong dalam memperkuat silahturahmi dan menjaga kebersamaan masyarakatnya. Tradisi ini telah berkembang dan menjadi keharusan sejak nenek moyang dahulunya. Terutama berkembangnya Islam di Minangkabau.

Selain peserta kurban, panitia penyelenggaran dan masyarakat, juga diperuntukan Alim Ulama yang biasa memberikan pengajian dan dekat dengan masyarakat ikut menjadi bagian. Pada kesempatan kali ini, delapan orang alim ulama turut mendapat rezki pada Idul Fitri 1422 Hijriah atau di tahun 2021 ini.

“Semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi kekuatan utama membangun kampung dan nagari kami. Sesuai pepatah menyebutkan Bajorong Batapian, Bakampuang Banagari,” terang Datuk Panungkek Suku Guci ini. (KP-1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here