Seorang pedagang dan pembeli ternah sedang marosok harga yang disepakati/Instagram

Komapos.com – Ada yang unik dari aktifitas jual beli ternak di Minangkabau. Masyarakat Minangkabau, punya tradisi tersendiri dalam jual beli ternak, yakni dengan cara marosok. Konon, tardisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Marosok kian ramai menjelang hari raya Idul Adha.

Di Minangkabau, tradisi marosok biasa dijumpai di pasar ternak di sejumlah kawasan di Sumatera Barat. Berbeda dengan transaksi jual beli umum, dalam tradisi marosok dilakukan sacara diam-diam.

Ada isyarat tertentu yang dilakukan antara penjual dan pembeli saat bertransaksi. Tanpa ada suara. Penjual dan pembeli tampak seolah saling berjabat tangan. Saat berjabat tangan ini tawar menawar harga ternak berlangsung.

Uniknya lagi permainan tangan ini tertutup bagi orang lain. Biasanya si penjual dan pembeli menutupi tangan mereka dengan sarung, baju, kopiah atau benda lain. Tujuan dari sikap ini adalah agar orang lain tak mengetahui proses transaksi tersebut. Sehingga harga ternak yang diperdagangkan, hanya diketahui oleh si penjual dan pembeli.

Pada saat tawar menawar berlangsung, penjual dan pembeli tampak saling menggenggam, memegang jari. Mereka menggoyangkan tangannya ke kiri dan juga ke kanan. Jika transaksi berhasil, setiap tangan saling melepaskan. Begitu juga sebaliknya, jika harga belum cocok, tangan tetap saling menggenggam seraya menawarkan harga baru yang bisa disepakati.

Setiap jari dalam tradisi marosok melambangkan angka puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah. Tak ada yang mengetahui secara pasti, kapan tradisi ini mulai dilakukan. Sejumlah pedagang ternak hanya mengakui, tradisi ini sudah dimulai sejak zaman raja-raja di Minangkabau.(KP/Pit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here