Dalam sebuah studi, ilmuwan menemukan cara unik dinosaurus seukuran domba dalam menarik pasangannya saat musim kawin.

Spesies Protoceratops adalah jenis dinosaurus pemakan tumbuhan yang memiliki panjang 1,8 meter dan habitatnya diketahui di tempat yang sekarang dikenal sebagai Gurun Gobi Mongolia.

Dinosaurus ini hidup pada lebih dari 70 juta tahun yang lalu. Studi mengungkapkan bahwa dinosaurus ini berevolusi untuk memiliki jumbai atau rumbai pada lehernya.

Dikutip dari Independent, Sabtu (6/2/2021), menurut para ilmuwan, evolusi jumbai pada leher hewan purba ini terjadi sebagai hasil seleksi seksual.

Peneliti postdoctoral di Natural History Museum, Inggris, Dr Andrew Knapp mengatakan bahwa pada banyak fosil hewan memiliki struktur dan ciri yang tidak biasa yang tidak benar-benar terlihat pada hewan yang hidup saat ini.

“Protoceratops tidak bertanduk, tetapi mereka masih memiliki jumbai yang besar,” kata Dr Knapp.

Kemunculan jumbai pada leher dinosaurus ini telah dikemukakan pada beberapa teori sebelumnya.

Beberapa teori menjelaskan bahwa jumbai tersebut digunakan untuk perlindungan, melindungi diri dari predator.

Teori lain menyebut bahwa kemungkinan jumbai tersebut sebagai alat pengatur suhu yang berperan dalam mendinginkan suhu tubuh herbivora besar.

Dalam studi yang berbeda juga menyebut kemungkinan jumbai pada dinosaurus ini berfungsi sebagai pengenal individu untuk mengenali anggota yang berbeda dari spesies mereka sendiri.

Namun, dalam penelitian dipublikasikan, Dr Knapp dan timnya menganalisis data dari pemindaian tiga dimensi (3D) dari 30 tengkorak lengkap hewan prasejarah ini.

Hasil evolusi seleksi seksual

Studi baru mengungkapkan bahwa fungsi terpenting dari jumbai leher pada Protoceratops ini mungkin berfungsi untuk menarik pasangan.

Jumbai leher Protoceratops memiliki fungsi seksual yang diyakini sebagai cara yang sama dengan yang dilakukan pada burung merak yang menggunakan bulu-bulunya untuk menarik pasangan saat musim kawin.

Para ilmuwan ini menemukan bahwa jumbai leher menjadi lebih besar seiring waktu. Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut adalah akibar langsung dari seleksi seksual.

Artinya, itu adalah sifat yang menjadi semakin menonjol karena disukai oleh lawan jenis dan, karenanya membuat dinosaurus ini lebih dominan.

Sementara itu, seleksi seksual itu tampaknya muncul pada fosil, sebab ilmuwan tidak menemukan bukti yang jelas dari dimorfisme seksual.

Di mana dua jenis kelamin dari spesies yang sama menunjukkan karakteristik yang berbeda di luar organ seksual mereka.

“Hampir pasti ada perbedaan antara (Protoceratops) jantan dan betina, tetapi perbedaannya kebanyakan pada ukuran tubuh, (dinosaurus) jantan cenderung lebih besar dari betina, atau sebaliknya,” jelas Dr Knapp.

Sumber : Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here