Tak bisa dimungkiri, pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal, mulai dari denyut bisnis yang tersendat hingga pola hidup masyarakat yang terbatas. Namun, hal tersebut tak lantas membuat sosok perempuan ayu ini meratapi keadaan pedihnya kondisi wabah virus Corona. Ia justru tetap melayani masyarakat akan kebutuhan kampung tengah. Tak main-main, dalam sehari puluhan pesanan mesti diantar ke alamat pembeli. Corona melarut, bisnis berlanjut. Bagaimana kisah sukses pengusaha muda asal Lubuk Basung yang satu ini?

Lubuk Basung – Depitriadi

“Beep” nada ponsel penanda pesan masuk berbunyi. Seorang perempuan berhijab tampak sibuk melayani pelanggannya melalui telepon genggam. Sementara, satu paket Mie Petir siap meluncur ke pelanggan di kawasan Lubuk Basung.

Dia adalah Pipit Ade Suryana, pemilik usaha kuliner delivery order DapoerPipit dibilangan Ujung Labuh, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Pipit, sedari kecil telah jatuh cinta dengan dunia bisnis. Kemudian, bakat memasaknya pun lambat laun mulai terasah. Hobi bisnis dan kepiawaian memasak, menjadi modal awal baginya untuk merintis bisnis kuliner.

“Sebelumnya saya sudah suka bisnis, kemudian bisa dibilang memasak adalah salah satu hobi yang ternyata bisa menghasilkan uang, jadi kenapa peluang ini tidak dimanfaatkan saja?” ujarnya saat berbincang dengan Komapos, Sabtu (9/7).

Diceritakan Pipit, ia mulai merintis DapoerPipit sejak 17 November 2017. Jauh sebelum wabah Covid-19 mendera. Menurut Pipit saat itu belum banyak orang yang berbisnis delivery order di Lubuk Basung.

“Dan yang pasti tanpa ikut-ikutan, karena awal buka tak banyak saya temui pengusaha kuliner yang menawarkan menu secara online,” imbuhnya.

Hal itu sekaligus menjadi alasan dirinya merintis bisnis DapoerPipit. Selain itu di Lubuk Basung belum banyak bisnis makanan kekinian yang terbilang moderen.

“Setidaknya masyarakat bisa menikmati kuliner kekinian dan kuliner nusantara yang jarang ada di Lubuk Basung,” katanya.

Soal prospek, Pipit meyakini apa yang ditekuni sangat menjanjikan. Betapa tidak, ia mengklaim dapat menyuguhkan kuliner bernuansa baru. Bahkan, ia berani menawarkan menu yang beragam.

“Kebanyakan yang berjualan menunya sudah banyak kita temui. Kalau DapoerPipit menu bervariasi jadi masyarakat tidak bosan dengan menu yang ada,” ungkap perempuan bertitle Sarjana Pendidikan itu.

Awal berbisnis, Pipit mencoba berjualan kue dengan menitip di warung. Namun tak jarang berlebih dan kue terpaksa dibawa pulang. Ia menyadari menjajakan kue secara tradisional tentu memiliki saingan yang lebih banyak.

“Tanpa pikir panjang dalam seminggu saya cari ide bagaimana saya bisa menyalurkan hobi dan saya bisa berjualan tanpa ada resiko yang besar. Akhirnya saya memilih untuk promo di FB. Karena saya lihat di FB jarang sekali orang jualan menu. Kebanyakan cuma kue dan online shop,” kenang Pipit.

Menurut Pipit, selain tidak perlu modal tempat, resiko bahan baku berlebih pun bisa diminimalisir. Sebab setiap kali orderan masuk, saat itu pula bahan diolah.

Meski begitu, sambungnya lagi, yang namanya jualan pasti ada untung dan rugi. Bicara soal rugi, ia pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan. Salah satunya, pelanggan yang tidak menjemput orderan sesuai jadwal, akhirnya orderan tak jadi terjual.

Bicara menu andalan yang paling best seller di DapoerPipit adalah Pizza Mozarella, Mie Petir, Mie Asap dan Pecel Ayam serta sejumlah menu lainnya. Ditanya soal omzet, Pipit menyebut masih fluktuatif. Namun, dalam sehari rata-rata bisa mencapai 20 orderan.

Diceritakan, DapoerPipit tidak hanya memenuhi orderen seputaran Lubuk Basung saja. Bahkan DapoerPipit sudah merambah Pulau Jawa seperti pengiriman orderan ke Semarang.

Setali pademi Covid-19, dan sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Agam tidak begitu mempengaruhi omzetnya. Hanya saja tren pesanan yang mengalami perubahan.

“Tahun ini DapoerPipit tidak menerima orderan kue kering, sebab saat ini masyarakat lebih mementingkan kebutuhan pokok dari pada kue. Jadi tahun ini lebih melayani menu berbuka puasa dan menu masakan kekinian yang ada di DapoerPipit,” ujarnya.

Dirinya tak memungkiri setelah di berlakukannya PSBB, jualan online semakin menjamur di media sosial. Kemudian, sambungnya, kebanyakan selama pandemi ini pelanggan lebih sering masak di rumah untuk keluarga dibandingkan beli keluar.

“Namun yang namanya rezeki kita akan tetap ada. Tuhan tidak pernah menukar rezeki kita, asalkan kita mau berusaha,” sebutnya lagi.

Mengingat banyaknya tren jualan online, Pipit tidak pelit berbagi tips kepada pemula yang baru mencoba berbisnis. Dikatakannya, harga, rasa dan kualitas adalah kunci sukses dalam menjalankan bisnis kuliner secara online.

“Kemudian gunakan bahan-bahan premium jika ingin makanannya lebih enak dan diterima konsumen. Dan yang utama sekali tetap bertahan meski banyaknya saingan sesama penjual online. Terutama mempertahankan rasa dan kualitas yang ada,” tutupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here