Lubuk Basung – Kurang lebih sudah 5 tahun Wiwik Fransiska (37) warga Jorong Sikabu, Kanagarian Kampuang Tangah, Kecamatan Lubuk Basung melawan penyakit yang dideritanya. Berbagai pengobatan telah dijalani, namun kondisinya tak kunjung membaik. Bahkan, dalam satu tahun terakhir kondisinya makin memburuk. Wiwik hanya bisa terbaring lemah, sembari menunggu uluran tangan dermawan.

Sabtu (20/6) tim Komapos menyambangi kediaman Wiwik. Wiwik tampak terbaring lesu sambil meringis menahan sakit. Sementara sang suami, Ridwan (39) tampak sabar menemani tambatan hatinya itu.

“Jika bergerak sedikit, punggung teras disetrum. Kadang semalaman tidak bisa tidur,” ujar Ridwan.

Diceritakan, sakit yang diderita Wiwik bermula dari kejadian 5 tahun lalu. Wiwik pernah terjatuh saat hendak menaiki sepeda motor. Dikatakan, saat itu bokongnya terhempas keras ke lantai.

“Saat itu tidak ada sakit yang dirasakan, hanya saja ia agak susah saat berjalan, sedikit agak pincang, namun lama kelamaan, setelah melahirkan anak kedua, rasa sakitnya makin parah, dan satu tahun terakhir sama sekali tidak bisa berjalan,” katanya.

Untuk upaya kesembuhan, telah banyak pengobatan yang dijalaninya. Mulai dari pengobatan alternatif hingga pengobatan medis.

“Dalam seminggu bisa sampai dua kali bolak-balik ke Padang. Sekitar seminggu lalu baru pulang pengobatan dari RSUD Lubuk Basung,” tuturnya.

Soal biaya pengobatan, dikatakan Ridwan semuanya ditanggung BPJS. Namun, satu tahun terakhir dirinya mulai khawatir soal biaya pengobatan istrinya itu. Pasalnya, selama istrinya tidak bisa berjalan, selama itu pula ia tidak bisa bekerja, lantaran istrinya tidak bisa ditinggal sendiri.

“Jika ditinggal bekerja, siapa yang akan mengurusinya, sementara makan, minum, mandi dan buang air tidak bisa dilakukannya seorang diri,” ungkapnya.

Diceritakan, sebelum jatuh sakit, ia dan istrinya menetap di Mesuji, Propinsi Lampung. Di sana, ia bekerja sebagai pedagang baju obral. Soal administrasi kependudukan, keluarganya masih terdata di pencatatan sipil Lampung.

“Sekarang sudah tidak bisa bekerja sama sekali. Apalagi dalam kondisi Covid-19 ini, biaya travel ke Padang sudah dua kali lipat. Kalau untuk pengobatan memang ditanggung BPJS, tapi biaya menemani ditanggung sendiri, butuh Rp. 500 ribu untuk sekali ke Padang, belum lagi biaya anak dua orang,” terang Ridwan.

Selama ini, sambung Ridwan, biaya pengobatan dan untuk kebutuhan sehari-hari diperoleh dari pemberian sanak keluarga. Namun, meraka insaf, tidak selamanya bisa begitu, karena keluarga mereka juga punya tanggungan sendiri.

“Lebih-lebih saat kondisi sekarang. Ekonomi makin susah lantaran Covid-19,” ujarnya.

Saat ini, Ridwan dan Wiwik berharap uluran tangan dermawan. Ridwan berharap istrinya bisa sembuh seperti sediakala. Penyakit yang mendera Wiwik lambat laun menguras berat badannya. Tubuh Wiwik semakin kurus.

“Sekarang berat badannya hanya 36 Kg dari 50an Kg,” sebutnya.

Terpisah, Kepala Jorong Sikabu, Al Mahdi telah mengetahui kondisi warganya itu. Dikatakan, warganya itu beberapa tahun terakhir mengalami lumpuh.

“Dulunya masih bisa berjalan pakai alat bantu, tapi sekarang sudah tidak bisa berjalan sama sekali. Saya dengar, ia mengalami sakit orang tua, sakit tulang,” ujar Almahdi.

Dikatakan, Wiwik dan suami saat ini menempati rumah orang tuanya yang berprofesi sebagai buruh penganyam tirai dan atap rumbia.

“Sebelumnya ia merantau, suaminya itu orang Lampung, tapi bapak suaminya orang sini,” imbuhnya.

Al Mahdi selaku Kepala Jorong, sangat berharap uluran tangan dermawan. Baik bantuan pemerintah ataupun bantuan per orangan. Menurutnya, wiwik layak untuk dibantu.

“Kalau ndak tatampuang jo tangan, jo nyiru kami tampuangkan,” harapnya.(KP-Pit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here