Sabtu, 25 Oktober 2014

facebookTwittergoogle pluslinkedin

Untuk Menebang Pohon di Koto Malintang Panjang Prosesnya

Koto Malintang – Komapost, Sejak lama di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pohon tidak bisa ditebang begitu saja. Walaupun untuk keperluan pembangunan rumah kediaman warga, harus ada izin dari banyak pihak, termasuk dari wali nagari. Hal itu diungkapkan Wali Nagari Koto Malintang, N. Dt. Palimo, Senin (17/6), via ponselnya.

Bila warga yang membutuhkan kayu bangunan, mereka terlebih dahulu mesti meminta izin untuk menebang pohon kepada mamak sako. Dari mamak sako baru meminta izin mamak adat. Kemudian baru meminta izin kepada kepala Dusun, kepala Jorong, untuk seterusnya kepada Ketua Kerapatan Adat Nagari ( KAN). Setelah mengantongi izin Ketua KAN, barulah berurusan ke Kantor Wali Nagari Koto Malintang.

Sebelum wali nagari menerbitkan izin tertulis, pohon yang akan ditebang dicek dulu. Apakah pohon tersebut menghasilkan buah untuk konsumsi warga, atau tidak. Bila pohon yang akan ditebang menghasilkan buah, seperti pohon durian, maka dianjurkan menggantinya dengan pohon lain yang ada di hutan rakyat dalam ulayat kaum tersebut.

“Tidak gampang menebang pohon di nagari kami, panjang prosesnya,” ujarnya.

Karena begitu rumitnya proses mendapatkan izin menebang pohon, anak nagari lebih senang membeli kayu untuk bahan bangunan mereka. Di sisi lain, ada rasa sayang warga untuk menebang pohon,karena diyakini merupakan aset berharga, dan mampu menjaga kampung mereka dari bencana banjir dan galodo.

“Kami sekarang sedang berusaha membuat peraturan nagari yang akan mengatur tata cara menebang pohon, dan penyelamatan lingkungan di nagari kami,” ujar Dt. Palimo pula. (Mzn)