Kamis, 21 Agustus 2014

facebookTwittergoogle pluslinkedin

Kerusakan Hutan Mangrove Sangat Merugikan Nelayan

mangroveAgam – Komapost, Kerusakan hutan mangrove sangat merugikan nelayan. Makanya Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) berupaya membantu penanaman bakau di pinggiran pantai Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, ungkap Kepala Dinas Hutbun Ir. Yulnasri, MM, melalui Kabid Kehutanan Ir. Afniwirman, Kamis (25/4).

Kerusakan hutan mangrove juga merusak lingkungan pantai. Hutan mangrove di samping sebagai rumah ikan, juga merupakan benteng pantai dari gelombang pasang. Bila hutan mangrove rusak,terjangan gelombang pasang akan langsung menghantam pantai. Dalam situasi demikian akan menimbulkan kerusakan pantai, dan rumah penduduk di kawasan itu.

Di pantai Kecamatan Tanjung Mutiara, hutan mangrove rusak akibat perbuatan manusia. Hutan mangrove, seperti bakau dan nipah, akhir punah. Ikan pun jadi langka di perairan dangkal.

Bakau bisa menjadi tameng gelombang pasan, dan bahkan tsunami. Pohon bakau bisa tumbuh besar, dengan ketinggian mencapai 20 meter, dan diameter pohonya bisa mencapai 1 meter.

"Sayangnya pohon bakau selalu ditebang untuk berbagai kebutuhan warga, sejak dari bahan bangunan sampai kayu api. Makanya bakau yang masih tersisa di dekat pantai Tanjung Mutiara tidak ada yang berukuran besar," ujar Afniwirman, didampingi salah seorang Kasi, Sy. Dt. Mahajang Dunia.

Berkurangnya luas hutan mangrove di Agam juga disebabkan alih fungsi lahan dari hutan mangrove menjadi lahan perkebunan.

Buah bakau bisa diolah menjadi minuman segar. Di Bali, sirup dari buah bakau laku keras. Bali memang telah maju dalam pemeliharaan tanaman bakau, dan umumnya hutan mangrove. Di sana setidaknya terdapat tanaman bakau sekitar 3.000 ha. Hutan mangrove tersebut menjadi tempat berkembangbiaknya aneka ikan laut, dan buahnya untuk bahan sirup.

Di Kecamatan Tanjung Mutiara, penduduk yang tinggal di tepi pantai sudah merasakan dampak buruk rusaknya hutan mangrove. Dengan demikian diharapkan mereka ikut memelihara dan melestarikan tanaman bakau, termasuk yang baru ditanam sebanyak 1.000 batang di perairan pantai Tiku, Selasa lalu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Agam, Ermanto, SPi, MSi, berpendapat sama. Menurutnya, perairan dangkal di pinggiran pantai Kecamatan Tanjung Mutiara, perlu ditanami bibit bakau. Bila bakau telah tumbuh besar, kawasan itu akan menjadi rumah ikan, tempat aneka ikan berkembang biak.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup, Aswirman, ketika dikonfirmasi via ponselnya mengakui kalau kerusakan hutan mangrove dapat merusak lingkungan. Ke depan ia berkeinginan memasukan dalam usulan anggaran, agar dana untuk memperbaiki hutan mangrove bisa masuk DPA BPLH Agam.

“Kami pun akan berupaya melobi Pemprov Sumbar,dan PemerintahPusat, agar kegiatan pembangunan dan pemeliharaan hutan mangrove mendapat bantuan dari kedua pemerintahan tersebut,” ujarnya.

Ia mengaku akan melakukan kerja sama dengan SKPD terkait di Pemkab Agam, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Agam. Ia memujikan langkah yang dilakukan pihak Dinas Hutbun Agam dan Mahasiwa pencinta Alam dan Lingkungan UNP Padang,yang telah menanami perairan pantai Tiku dengan bibit bakau. (Mzn)